Pages

Subscribe:

Senin, 14 November 2016

MUTU PROSES BELAJAR MENGAJAR DENGAN PENERAPAN STRATEGI TANDUR PADA KAJIAN SISTEM EKSKRESI MANUSIA DI SMP NEGERI 2 MANDIRAJA BANJARNEGARA

ABSTRAK

Dari hasil observasi yang dilakukan di kelas II SMP N 2 Mandiraja diketahui bahwa siswa kurang antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal ini disebabkan kondisi pembelajaran yang monoton, karena lebih sering menerapkan strategi ceramah. Monotonnya proses pembelajaran disebabkan guru kesulitan dalam merancang strategi pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa. Oleh karena itu guru perlu dibantu merancang strategi pembelajaran yang inovatif, menarik dan dapat mengaktifkan siswa. Strategi pembelajaran TANDUR dirancang bersama guru dan diterapkan dalam proses pembelajaran kajian sistem ekskresi yang telah berlangsung. Dari faktor utama tersebut, maka perlu diteliti bagaimana mutu proses belajar mengajar yang menerapkan strategi TANDUR pada kajian sistem ekskresi manusia.
Penelitian ini dilaksanakan di kelas II D SMP N 2 Mandiraja yang berada di jalan raya Purwasaba-Simbang Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara, dengan jumlah siswa 40 orang terdiri dari 20 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Penelitian dilakukan pada kajian sistem ekskresi manusia tahun pelajaran 2004-2005. Data hasil penelitian ini diolah dengan metode deskriptif kualitatif persentase.
Kegiatan pembelajaran dengan strategi TANDUR yang telah dilaksanakan secara umum berjalan baik. Hasil analisis data dan pembahasan menunjukkan bahwa mutu hasil belajar pemahaman konsep dinilai lebih dari cukup (73,5), mutu hasil belajar kerja ilmiah dinilai cukup (64,9), mutu aktivitas siswa dinilai baik (80,4) dan mutu kinerja guru dinilai istimewa (96,9). Dari empat aspek yang telah ditentukan hasil belajar aspek kerja ilmiah belum bisa tercapai secara optimal. Hal ini terjadi karena pembelajaran ketrampilan proses ilmiah memerlukan waktu yang lama sebagaimana pendapat Sudjana (1989) yang menyatakan bahwa pengembangan suatu ketrampilan memerlukan proses yang panjang.
Mutu proses belajar mengajar yang telah berlangsung adalah baik dengan nilai 78,9. Untuk mencapai hasil yang lebih optimal, maka dalam penerapan pembelajaran strategi TANDUR ini diperlukan beberapa perbaikan, antara lain dengan menambah tingkat kesukaran soal pada LKS, memberikan contoh yang lebih autentik dalam setiap permasalahan yang disajikan, memberikan bimbingan dan latihan ketrampilan proses ilmiah yang lebih intensif.


Kata kunci: mutu PBM, strategi TANDUR, sistem ekskresi manusia

Selengkapnya download DISINI

Minggu, 13 November 2016

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN PENGETAHUAN SOSIAL-EKONOMI PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 PADAMARA KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN PELAJARAN 2005/2006

SARI

Kata Kunci: Prestasi Belajar, Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial-Ekonomi, Siswa

Prestasi belajar mata pelajaran Pengetahuan Sosial-Ekonomi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Padamara Kabupaten Purbalingga dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang datang dari dalam maupun dari luar diri siswa. Kebenaran argumen ini perlu dibuktikan melalui kegiatan penelitian agar diperoleh jawaban yang akurat. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi prestasi belajar mata pelajaran pengetahuan sosial-ekonomi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Padamara Kabupaten Purbalingga?. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar mata pelajaran pengetahuan sosial-ekonomi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Padamara Kabupaten Purbalingga.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII yang berjumlah 184 siswa. Untuk pengambilan sampel digunakan rumus slovin dengan taraf signifikansi 5% dan didapat sampel 126,027, tetapi untuk tercapainya tujuan penelitian sampel yang digunakan ditambah menjadi sebesar 130 responden. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel hasil eksplorasi yang akan diteliti seluruhan hubungan interdependent antar variabel-variabelnya. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah angket. Data yang diperoleh dianalisis dengan tehnik analisis faktor.
Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 7 (tujuh) faktor prestasi belajar yang terbentuk, faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: (1) factor suasana kelas dan guru, (2) faktor sarana belajar, (3) faktor metode belajar, (4) faktor motivasi, (5) faktor minat siswa, (6) faktor lingkungan tempat tinggal dan (7) faktor keaktifan siswa. Faktor yang memberi kontribusi paling besar adalah faktor suasana kelas dan faktor guru yaitu sebasar 28,66%, kontribusi terkecil diberikan oleh faktor keaktifan siswa yaitu sebesar 5,26% dari keseluruhan kontribusi yang diberikan oleh seluruh faktor yang besarnya 75,47%.

Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) Perlunya meningkatkan suasana yang nyaman, tenang, dan kondusif sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan tenang, (2) Perlunya ditingkatkannya metode pembelajaran yang tepat sehingga tingkat kebosanan siswa terhadap pelajaran tidak berlarut-larut dan cepat teratasi, (3) Perlunya ditingkatkan keaktifan siswa dalam bertanya kepada guru jika menemukan hal-hal yang kurang jelas dan (4) Menyontek adalah salah satu perbuatan yang kurang baik, sebaiknya kebiasaan siswa dalam menyontek secepatnya ditanggulangi.

Selengkapnya download DISINI

Sabtu, 12 November 2016

Penerapan Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Konstruktivisme Model NCTM Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Pada Materi Luas Bangun Datar Siswa Kelas VII A SMP Muallimin Wonodadi Blitar Tahun Ajaran 2008/2009

ABSTRAK

Kata Kunci    :      Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa, Pembelajaran Matematika Pendekatan Konstruktivisme Model NCTM Luas Bangun Datar.

Permasalahan (1) Bagaimana penerapan pembelajaran matematika dengan pendekatan konstruktivisme model NCTM pada materi luas bangun datar? (2) Bagaimana hasil prestasi  siswa terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan Kostruktivisme model NCTM pada materi luas bangun datar?
Pola penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Sumber data dalam Penelitian Tindakan ini adalah siswa kelas VII A SMP Muallimin Wonodadi Blitar. Metode pengumpulan data (1) Tes, (2) Tugas, (3) Wawancara, (4) Observasi, (5) Catatan lapangan. Model analisis data yang digunakan yaitu model alir (Flow model) yang meliputi (1) reduksi data, (2) menyajikan data (3) menarik kesimpulan.
Tujuan Penelitian (1) mengetahui penerapan pembelajaran matematika dengan pendekatan konstruktivisme model NCTM pada materi luas bangun datar di kelas VII SMP Muallimin Wonodadi Blitar (2) Mengetahui hasil prestasi siswa terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan konstruktivisme model NCTM  pada materi luas bangun datar siswa kelas VII A SMP Muallimin Wonodadi Blitar.
Hasil Penelitian secara empiris menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan konstruktivisme model NCTM dapat dilakukan melalui diskusi secara kelompok maupun individu. Penerapan model NCTM dalam pembelajaran ini dilakukan sesuai dengan komponen-komponen dari NCTM yaitu : (1) Tugas, dengan siswa menemukan permasalahan yang nantinya didiskusikan dan memberikan wacana sesuai dengan ide-ide siswa. (2) Wacana, dengan siswa menjadi lebih aktif mengemukakan pendapatnya. (3) Lingkungan, untuk membantu siswa memancing ide-ide supaya dapat berkembang. (4) Analisis, meningkatkan dan memperluas berpikir serta pemahaman siswa. Selain itu, pembelajaran matematika dengan pendekatan konstruktivisme model NCTM dapat membantu meningkatkan hasil prestasi siswa sesuai dengan hasil diskusi dan hasil tes setiap akhir tindakan.
Model NCTM ini merupakan bagian dari konstruktivisme yang didalamnya juga terdapat metode pemecahan-pemecahan  masalah. Sesuai dengan komponen-komponen NCTM, dengan tugas tersebut siswa dapat menemukan, membangun, dan mengembangkan wacana dengan ide-idenya untuk menyelesaikan masalah. Sehingga siswa aktif berkreasi untuk menemukan jawabannya. 
Dalam proses pembelajaran, pendekatan kostruktivisme model NCTM memiliki banyak kelebihannya. Pendekatan konstruktivisme model NCTM dapat meberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun matematika dalam pikirannya, dapat melaksanakan, menata mengikuti dan menyelesaikan tugas dengan baik. Selain itu dengan pendekatan ini akan tercipta suasana yang menyenangkan karena  siswa dapat mengapresiasikan ide-idenya dalam pembelajarannya. Hal ini akan meningkatkan gairah dan motivasi siswa untuk lebih rajin belajar. Sedangkan kekurangannya adalah guru dalam menyiapkan permasalahnya serta referensi dari berbagai sumber. 
Dari kelebihan dan kelemahan pendekatan ini, sudah sepatutnya kita mencoba untuk menerapkan pendekatan ini guna mengembangkan kompetensi yang kita miliki.

Selengkapnya download DISINI

Jumat, 11 November 2016

Upaya Meningkatkan Penguasaan Konsep Volume Dan Luas Bangun Ruang Dengan Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas VIII SMPN 5 Tulungagung

A.    Latar Belakang
Pelajaran Matematika diberikan di semua sekolah baik di jenjang pendidikan dasar maupun pendidikan menengah. Pelajaran matematika yang diberikan di semua jenjang pendidikan diharapkan akan mempunyai kontribusi yang berarti bagi bangsa masa depan, khususnya dalam “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”.[1]
Namun, jika kita perhatikan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disertai dengan arus globalisasi yang makin cepat, maka guru sebagai satu-satunya sumber informasi tidak mungkin lagi menjadi sumber informasi tunggal bagi peserta didik.[2] Menurut penelitian Jakson bahwa peranan guru itulah yang memegang peranan yang terpenting, dalam arti bahwa perhatian guru pribadi terhadap siswa-siswanya lebih memajukan perkembangan anak, dimana seorang guru lebih sering menghadapi anak-anak dari kelas itu.[3]
Guru sebagai pendidik harus menyadari bahwa kemajuan pendidikan lebih tergantung kepada dedikasi guru serta kreatifitasnya setelah mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi diberbagai tempat[4]. Kreatifitas yang dimiliki guru terletak pada metode dan strategi yang diterapkan dalam pengajaran khususnya pengajaran matematika. Pengajaran matematika hendaknya lebih bervariasi baik metode maupun strateginya guna mengoptimalkan potensi siswa.  Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika.[5] Pengajaran matematika disekolah pada umumnya didominasi oleh pengenalan rumus-rumus dan konsep-konsep secara verbal tanpa ada perhatian yang cukup terhadap pemahaman siswa.
Dalam pengenalan rumus–rumus dan konsep-konsep matematika di kelas menunjukkan bahwa sering terjadi kesalahan dalam pengajarannya. Hal ini disebabkan karena guru tidak memahami dengan baik matematika yang akan digunakan sebagai wahana pendidkkan[6].
Disamping itu, guru dalam mengajar masih kurang memperhatikan kemampuan berfikir siswa atau dengan kata lain tidak melakukan pengajaran bermakna, metode yang digunakan kurang bervariasi, dan juga guru lebih mendominasi kelas atau mendominasi kegiatan belajar mengajar, sedangkan siswa lebih sering berperan sebagai pendengar dan pencatat yang baik.[7]
Mengajar akan efektif bila kemampuan berfikir siswa diperhatikan dan karena itu perhatian ditujukan kepada kesiapan struktur kognitif siswa. Adapun struktur kognitif mengacu pada organisasi pengetahuan dan pengalaman yang telah dikuasai seorang siswa yang memungkinkan siswa itu dapat menangkap ide/konsep-konsep baru. Kenyataan menunjukkan bahwa perkembangan intelektual siswa berlangsung bertahap secara kualitatif. Walaupun perkembangan itu nampaknya berjalan dengan sendirinya, nampaknya perlu diarahkan sebab perkembangan tersebut dapat dibantu atau terhalang oleh keadaan lingkungan.[8]
Melihat kondisi tersebut maka di perlukan suatu strategi pembelajaran yang sesuai dalam menyampaikan pokok-pokok bahasan matematika kepada peserta didik. Strategi belajar matematika adalah kegiatan yang dipilih pengajar dalam proses belajar mengajar matematika yang dapat memberikan fasilitas belajar sehingga memperlancar tercapainya tujuan belajar matematika.[9] Kalau kita lihat salah satu komponen pendidikan di sekolah adalah siswa, dalam pembelajaran siswa merupakan subyek yang mengalami proses pembelajaran, sehingga kemampuan siswa turut mempengaruhi tingkat kecepatan proses belajar dan tingkat keberhasilan belajar.
Pelajaran matematika ditingkat SMP terdiri dari berbagai sub-sub pokok bahasan, salah satunya adalah menentukan rumus Volume dan Luas Bangun Ruang yang diajarkan di kelas VIII (Kurikulum Berbasis Kompetensi, 2004). Dalam materi mengidentifikasikan Bangun Ruang terdapat beberapa Kompetensi Dasar yang harus dicapai yaitu :
(1) Menentukan Luas Selimut dan Volume tabung, bola, kerucut dengan Indikator : (a) Menyebutkan unsur–unsur jari-jari/diameter, tinggi, sisi alas dari tabung dan kerucut, (b) Melukis jaring-jaring tabung, dan jaring-jaring kerucut, (c) Menghitung luas selimut tabung, kerucut dan bola, (d) Menghitung volume tabung, kerucut dan bola, (e) Menghitung unsur-unsur Bangun Ruang Sisi Lengkung jika volume Bangun Ruang Sisi Lengkung diketahui, (2) Menghitung besar perubahan volume dengan Indikator : (a) Menghitung perbandingan volume tabung, kerucut dan bola karena perubahan ukuran jari-jari, (b) Menghitung besar perubahan volume tabung, kerucut dan bola jika jari – jarinya berubah.[10]
Berdasarkan hasil wawancara dalam studi pendahuluan di SMPN 5 Tulungagung dengan guru mata pelajaran matematika. Peneliti melihat bahwa  dalam pengajaran mencari Volume dan Luas Bangun Ruang khususnya Tabung, Kerucut, Bola, pada umumnya langsung mengenalkan rumus menentukan volume dan luas bangun ruang seperti tabung, kerucut, dan bola tersebut, kemudian anak dilatih menggunakan rumus tersebut. Sehingga siswa kurang dilibatkan dalam memanipulasi benda konkret. Guru beranggapan bahwa penggunaan benda konkrit (alat peraga) merepotkan, karena hasilnya sama saja dengan yang tidak menggunakan alat peraga.
Dari kondisi pembelajaran di sekolah tersebut dalam mencari volume dan luas Bangun Ruang, terkesan bahwa guru lebih banyak mendominasi kegiatan. Siswa hanya mengamati apa yang dilakukan guru seperti ceramah, tanya jawab, demonstrasi cara mengerjakan soal, dan dilanjutkan latihan-latihan soal.
Dalam upaya meningkatkan penguasaan Konsep Volume dan Luas Bangun Ruang siswa akan mengembangkan pemahamannya dengan baik jika mereka dapat secara mudah mengaitkan antara sesuatu yang telah mereka kenal dengan pengetahuan dan pemahaman yang baru atau yang belum dikenal. Hubungan dalam memahami materi yang abstrak tidak dapat dibesar–besarkan. Keberhasilan dalam belajar yang ditandai oleh penyediaan lingkungan belajar yang membantu siswa dalam membuat hubungan-hubungan tersebut. Siswa selanjutnya mampu menyadari adanya saling hubungan antara materi dan perannya dalam situasi kehidupan nyata.[11]
Salah satu cara dalam meningkatkan penguasaan konsep Volume dan Luas Bangun Ruang adalah dengan melalui model pembelajaran yang memungkinkan tercapainya tujuan pengajaran. Model pembelajaran yang sesuai untuk mengatasi permasalahan diatas adalah “Pembelajaran Kontekstual”. Pembelajaran Kontekstual bermula dari pandangan ahli pendidikan klasik John Dewey yang pada tahun 1916  mengajukan teori Kurikulum dan Metodologi Pengajaran yang berhubungan dengan pengalaman dan minat siswa.[12]
 Pembelajaran kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan siswa menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat memecahkan masalah–masalah dunia nyata atau masalah–masalah yang disimulasikan. Pembelajaran Kontekstual terjadi apabila siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah–masalah dalam dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, siswa dan tenaga kerja.[13]
Untuk mengatasi kendala yang mungkin timbul ini, guru diharapkan dapat memahami pembelajaran kontekstual secara mendalam.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik dan berusaha mencari solusi dalam meningkatkan penguasaan siswa terhadap konsep volum dan luas bangun ruang, oleh karena itu peneliti mengadakan penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Penguasaan Konsep Volume Dan Luas Bangun Ruang Dengan Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas VIII SMPN 5 Tulungagung “



[1] Soedjadi, Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, (Jakarta : Dirjen Dikti, 1999), hal.3
[2] Gulo, W, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta : Grasindo Pers, 2003) hal.5
[3] Gerungan, W.A, Psikologi Sosial, ( Jakarta : Refika Aditama, 2002) hal. 194
[4] Soedjadi, Kiat Pendidikan ..........hal.101
[5] I Gusti Putu Suharta, Matematika Realistik : Apa dan Bagaimana,http// www/duniaguru.com.htm
[6] Soedjadi, Kiat Pendidikan......, hal.100
[7] Sudarman Benu, Prosiding Seminar Nasional Matematika Jurusan Matematika, (Surabaya ITS Surabaya), hal. 431
[8] Herman Hudoyo, Pengembangan Kurikulum.......,  hal. 64
[9] Herman Hudoyo, Strategi Belajar Mengajar Matematika, (Malang : IKIP Malang 1990), hal. 11
[10] Lima, Suharyono, Widosuwahyono A, Mahir Matematika SMP Kelas 2, (Jakarta : Grasindo, 2004) hal. 11
[11] Nurhadi, Burhan Yasin, Agus Gerrad Senduk, Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya Dalam KBK, 2004, (Malang : UNM, 2004) hal.26
[12] Ibid, hal. 8
[13] Ibid, hal.13


Selengkapnya download DISINI

Kamis, 10 November 2016

Implementasi Teori Bruner untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Kelas V MI Hidayatul Mubtadi’in pada Operasi Hitung Bilangan Bulat

ABSTRAK
Kata Kunci    : Teori Bruner, Operasi Hitung Bilangan Bulat

Penelitian dalam skripsi ini dilatar belakangi oleh adanya siswa yang masih kurang memahami konsep operasi hitung bilangan bulat khususnya penjumlahan dan pengurangan. Oleh karena itu untuk meningkatkan pemahaman siswa peneliti menerapkan sebuah teori belajar dari Jerome S Bruner (Teori Bruner) dengan menerapkan tiga tahap pembelajaran yaitu enaktif (konkret), ikonik (semi konkret), dan simbolik (abstrak). Penelitian ini dilaksanakan di kelas V Madrasah Ibtida’iyah Hidayatul Mubtadi’in Pakel Ngantru Tulungagung.
Fokus penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah (1) Bagaimana implementasi Teori Bruner sebagai upaya pemahaman siswa terhadap materi operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat? (2) Bagaimana pemahaman siswa terhadap materi operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui implementasi Teori Bruner? (3) Bagaimana hasil yang dicapai berdasarkan pemahaman siswa terhadap materi operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui implementasi Teori Bruner?
Adapun yang menjadi tujuan penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan konsep pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui implementasi Teori Bruner sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas V MI Hidayatul Mubtadi’in Pakel Ngantru Tulungagung (2) Untuk mengetahui pemahaman siswa kelas V MI Hidayatul Mubtadi’in Pakel Ngantru Tulungagung terhadap materi operasi penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat melalui implementasi Teori Bruner (3) Untuk mengetahui hasil yang dicapai berdasarkan pemahaman siswa kelas V MI Hidayatul Mubtadi’in Pakel Ngantru Tulungagung terhadap materi operasi penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat melalui implementasi Teori Bruner.
Skripsi ini bermanfaat bagi penulis untuk menambah wawasan pola pikir, sikap dan pengalaman sebagai upaya peningkatan kualitas profesi sebagai pengajar. Memberi pengalaman dan alternatif lain bagi guru matematika yang terlibat dalam penelitian ini  baik dari segi teoritis maupun dari pelaksanaan pembelajarannya. Bagi Madrasah Ibtida’iyah Hidayatul Mubtadi’in Pakel Ngantru Tulungagung, sebagai sumbangan pemikiran dalam rangka pembinaan dan peningkatan mutu pengajaran. Bagi para pembaca sebagai bahan masukan atau referensi dalam melakukan penelitian yang lebih lanjut.
Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan metode tes, wawancara, observasi dan catatan lapangan. Untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep materi operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat disusun dua siklus rencana pembelajaran, yaitu (1) Menyelesaikan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui implementasi teori bruner dengan tahap penyajian enaktif dan ikonik (2) Menyelesaikan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui implementasi teori bruner dengan tahap penyajian simbolik. Analisis data dilakukan dengan cara (1) mereduksi data, (2) menyajikan data, dan (3) menyimpulkan data.
Hasil penelitian, (1) Pada tahap enaktif siswa menyelesaikan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat menggunakan alat peraga secara langsung, pada pembelajaran tahap ikonik siswa menyelesaikan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui media gambar, dan pada pembelajaran tahap simbolik menyelesaikan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui simbol-simbol matematika secara langsung (2) Pembelajaran konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui implementasi Teori Bruner mendapat respon yang sangat positif dari siswa, menurut mereka pembelajaran dengan implementasi Teori Bruner sangat menarik dan mudah dipahami (3) Setelah diadakan penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran melalui Teori Bruner lebih dapat memahamkan siswa terhadap materi operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, dengan keseluruhan siswa mampu mencapai batas ketuntasan belajar nilai 60 tanpa melalui pembelajaran remedial.

Selengkapnya download DISINI

Rabu, 09 November 2016

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN REALISTIC MATHEMATIC EDUCATION (RME) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VI SD NEGERI LIMBANGAN 03 TAHUN PELAJARAN 2006/2007 DALAM POKOK BAHASAN OPERASI HITUNG PADA BILANGAN PECAHAN

ABSTRAK
Matematika merupakan ilmu yang memiliki kecenderungan deduktif, aksiomatik dan abstrak (pakta, konsep dan prinsip). Karakteristik yang dimiliki matematika inilah yang menyebabkan matematika menjadi suatu pelajaran yang sulit dan menjadi salah satu mata pelajaran yang sangat ditakuti oleh siswa. Oleh sebab itu, pembelajaran matematika khususnya pada sekolah dasar membutuhkan perhatian yang sungguh-sungguh dari siswa, guru dan instansi pendidikan yang terkait. Dalam hal ini perlu diciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan siswa yang berfikir konkret dibawa kepada konsep matematika yang bersifat abstrak tersebut.
Salah satu cara menumbuhkan kondisi belajar yang dapat membawa mereka menguasai konsep matematika, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematika adalah menggunakan model pembelajaran yang tepat. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tindakan kelas.
Permasalahan dalam Penelitian Tindakan kelas ini adalah bagaimana cara meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Limbangan 03 dalam pokok bahasan operasi hitung pada bilangan pecahan. Untuk menjawab permasalahan tersebut di atas peneliti menerapkan model pembelajaran realistic mathematic education. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran realistic mathematic education dapat iii meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Limbangan 03 tahun pelajaran 2006/2007 dalam pokok bahasan operasi hitung pada bilangan pecahan. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas VI SD Negeri Limbangan 03 tahun pelajaran 2006/2007 beserta guru kelasnya.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam tiga siklus, setiap siklus terdiri atas dua pertemuan. Masing-masing siklus melalui 4 tahapan, yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Pada setiap akhir siklus diadakan tes akhir siklus guna mengetahui adanya peningkatan hasil belajar matematika dalam pembelajaran. Untuk siklus I diperoleh nilai rata-rata 59,6 dengan siswa yang memperoleh nilai ≥ 68 sebanyak 37 % dari 49 siswa yang hadir, kemudian siklus II diperoleh nilai rata-rata 71,1 dengan siswa yang memperoleh nilai ≥ 68 sebanyak 67 % dari 49 siswa, sedangkan siklus III diperoleh nilai rata-rata 69,2 dengan siswa yang memperoleh nilai ≥ 68 sebanyak 63 % dari 49 siswa.

Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan hasil belajar matematika dalam pokok bahasan operasi hitung pada bilangan pecahan dengan menggunakan model pembelajaran realistic mathematic
education. Selain itu juga siswa terbiasa dengan memecahkan masalah realistis, sehingga mereka akan lebih siap menghadapi kehidupan yang penuh dengan berbagai persoalan ini. Penggunaan model pembelajaran realistic mathematic education akan mendorong siswa untuk memanipulasi persoalan-persoalan untuk mendapatkan solusi pemecahannya. Saran yang dapat diberikan adalah gunakan lingkungan iv siswa sebagai salah satu sumber belajar pilihan, agar siswa mengenali lingkungan dan lebih siap membangun lingkungan dan yang utama adalah mereka lebih termotivasi untuk belajar.

Selengkapnya download DISINI

Selasa, 08 November 2016

Keefektifan pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education) dan pembelajaran ekspositori terhadap kemampuan peserta didik di Sekolah Dasar kelas IV dalam menyimpan informasi ke dalam LTM

A.      Latar Belakang
Cukup banyak peserta didik SD tidak suka belajar matematika, yang mengakibatkan nilai matematika peserta didik SD menjadi rendah. Ketidaksukaan peserta didik SD ini semakin diperparah karena sejak awal fondasi pemahaman peserta didik sangat kurang (http://www.geocities.com/bloganak06/anak/MatematikaSebelAh.doc). Hal ini dikarenakan peserta didik bukan dilatih untuk paham dan mengerti tapi hanya mengingat angka-angka. Sehingga mereka kurang mampu menyelesaikan masalah matematika. Ditambahkan lagi bahwa ketidaksukaan peserta didik belajar matematika terbagi menjadi dua. Pertama, matematika tidak menarik. Kedua, peserta didik punya masalah tersendiri dalam memahami konsepkonsep matematika sehingga kurang mampu menggunakannya untuk memecahkan masalah.
Penyebab ketidaksukaan peserta didik dalam belajar matematika dapat diatasi, salah satunya adalah dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk proses belajar. Namun perlu diperhatikan juga bahwa selain dipengaruhi oleh lingkungan, belajar juga dipegaruhi oleh kondisi peserta didik sendiri. Kondisi peserta didik ini berupa kemampuan peserta didik untuk mengolah, menyimpan dan menggunakan kembali pada waktu yang akan datang 2 informasi yang telah diperoleh dari proses belajar yang telah peserta didik alami. LTM (Long Term Memory) merupakan sistem untuk menyimpan, mengatur, dan mendapatkan atau menggunakan kembali informasi yang bersifat permanen. Informasi-informasi yang tersimpan dalam LTM mungkin akan tersedia untuk selamanya.
Hasil belajar yang berupa nilai ujian merupakan gambaran yang paling mudah diamati dalam melihat keberhasilan suatu proses belajar. Meski hal ini tidak dapat dijadikan patokan, namun berdasarkan nilai ujian pulalah seorang peserta didik dapat dinyatakan lulus atau tidak sekarang ini.
Waktu pelaksanaan ujian yang biasanya mempunyai tenggang waktu dari pelaksanaan pembelajaran, menuntut peserta didik mempunyai kemampuan menyimpan informasi ke dalam LTM yang baik. Terlebih lagi pada materi yang dijadikan dasar pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Misalkan materi bilangan bulat pada kelas IV SD, disini terdapat penanaman konsep operasi bilangan bulat yang sering digunakan sebagai pengetahuan dasar untuk mempelajari materi yang lain pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Telah banyak model pembelajaran yang telah dikembangkan sebagai langkah penciptaan lingkungan yang kondusif dalam proses belajar yang diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik. Salah satunya adalah pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education). Sejak tahun 2001 RME mulai merambah Indonesia. RME (Realistic Mathematics 3 Education) adalah sebuah pembelajaran matematika yang menekankan pada penyelesaian masalah secara informal sebelum menggunakan cara formal. Cara informal ini bisa berupa permainan, lagu atau segala sesuatu yang dekat dengan peserta didik. Dekat dengan peserta didik disini berarti berhubungan dengan kehidupan peserta didik, sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik dan terjangkau oleh peserta didik. RME dimulai dari masalah yang kemudian diarahkan menuju pemecahan secara formal.

 Prestasi peserta didik biasanya dilihat melalui nilai ujian, nilai ujian merupakan salah satu perwujudan hasil belajar peserta didik yang sangat dipengaruhi oleh kemampuan peserta didik dalam menyimpan, mengatur, dan mendapatkan atau menggunakan kembali informasi yang ada di dalam memori. Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti mengambil judul “Keefektifan pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education) dan pembelajaran ekspositori terhadap kemampuan peserta didik di Sekolah Dasar kelas IV dalam menyimpan informasi ke dalam LTM”.

Selengkapnya download DISINI