Pages

Subscribe:

Kamis, 10 November 2016

Implementasi Teori Bruner untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Kelas V MI Hidayatul Mubtadi’in pada Operasi Hitung Bilangan Bulat

ABSTRAK
Kata Kunci    : Teori Bruner, Operasi Hitung Bilangan Bulat

Penelitian dalam skripsi ini dilatar belakangi oleh adanya siswa yang masih kurang memahami konsep operasi hitung bilangan bulat khususnya penjumlahan dan pengurangan. Oleh karena itu untuk meningkatkan pemahaman siswa peneliti menerapkan sebuah teori belajar dari Jerome S Bruner (Teori Bruner) dengan menerapkan tiga tahap pembelajaran yaitu enaktif (konkret), ikonik (semi konkret), dan simbolik (abstrak). Penelitian ini dilaksanakan di kelas V Madrasah Ibtida’iyah Hidayatul Mubtadi’in Pakel Ngantru Tulungagung.
Fokus penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah (1) Bagaimana implementasi Teori Bruner sebagai upaya pemahaman siswa terhadap materi operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat? (2) Bagaimana pemahaman siswa terhadap materi operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui implementasi Teori Bruner? (3) Bagaimana hasil yang dicapai berdasarkan pemahaman siswa terhadap materi operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui implementasi Teori Bruner?
Adapun yang menjadi tujuan penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan konsep pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui implementasi Teori Bruner sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas V MI Hidayatul Mubtadi’in Pakel Ngantru Tulungagung (2) Untuk mengetahui pemahaman siswa kelas V MI Hidayatul Mubtadi’in Pakel Ngantru Tulungagung terhadap materi operasi penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat melalui implementasi Teori Bruner (3) Untuk mengetahui hasil yang dicapai berdasarkan pemahaman siswa kelas V MI Hidayatul Mubtadi’in Pakel Ngantru Tulungagung terhadap materi operasi penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat melalui implementasi Teori Bruner.
Skripsi ini bermanfaat bagi penulis untuk menambah wawasan pola pikir, sikap dan pengalaman sebagai upaya peningkatan kualitas profesi sebagai pengajar. Memberi pengalaman dan alternatif lain bagi guru matematika yang terlibat dalam penelitian ini  baik dari segi teoritis maupun dari pelaksanaan pembelajarannya. Bagi Madrasah Ibtida’iyah Hidayatul Mubtadi’in Pakel Ngantru Tulungagung, sebagai sumbangan pemikiran dalam rangka pembinaan dan peningkatan mutu pengajaran. Bagi para pembaca sebagai bahan masukan atau referensi dalam melakukan penelitian yang lebih lanjut.
Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan metode tes, wawancara, observasi dan catatan lapangan. Untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep materi operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat disusun dua siklus rencana pembelajaran, yaitu (1) Menyelesaikan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui implementasi teori bruner dengan tahap penyajian enaktif dan ikonik (2) Menyelesaikan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui implementasi teori bruner dengan tahap penyajian simbolik. Analisis data dilakukan dengan cara (1) mereduksi data, (2) menyajikan data, dan (3) menyimpulkan data.
Hasil penelitian, (1) Pada tahap enaktif siswa menyelesaikan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat menggunakan alat peraga secara langsung, pada pembelajaran tahap ikonik siswa menyelesaikan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui media gambar, dan pada pembelajaran tahap simbolik menyelesaikan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui simbol-simbol matematika secara langsung (2) Pembelajaran konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui implementasi Teori Bruner mendapat respon yang sangat positif dari siswa, menurut mereka pembelajaran dengan implementasi Teori Bruner sangat menarik dan mudah dipahami (3) Setelah diadakan penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran melalui Teori Bruner lebih dapat memahamkan siswa terhadap materi operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, dengan keseluruhan siswa mampu mencapai batas ketuntasan belajar nilai 60 tanpa melalui pembelajaran remedial.

Selengkapnya download DISINI

Rabu, 09 November 2016

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN REALISTIC MATHEMATIC EDUCATION (RME) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VI SD NEGERI LIMBANGAN 03 TAHUN PELAJARAN 2006/2007 DALAM POKOK BAHASAN OPERASI HITUNG PADA BILANGAN PECAHAN

ABSTRAK
Matematika merupakan ilmu yang memiliki kecenderungan deduktif, aksiomatik dan abstrak (pakta, konsep dan prinsip). Karakteristik yang dimiliki matematika inilah yang menyebabkan matematika menjadi suatu pelajaran yang sulit dan menjadi salah satu mata pelajaran yang sangat ditakuti oleh siswa. Oleh sebab itu, pembelajaran matematika khususnya pada sekolah dasar membutuhkan perhatian yang sungguh-sungguh dari siswa, guru dan instansi pendidikan yang terkait. Dalam hal ini perlu diciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan siswa yang berfikir konkret dibawa kepada konsep matematika yang bersifat abstrak tersebut.
Salah satu cara menumbuhkan kondisi belajar yang dapat membawa mereka menguasai konsep matematika, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematika adalah menggunakan model pembelajaran yang tepat. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tindakan kelas.
Permasalahan dalam Penelitian Tindakan kelas ini adalah bagaimana cara meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Limbangan 03 dalam pokok bahasan operasi hitung pada bilangan pecahan. Untuk menjawab permasalahan tersebut di atas peneliti menerapkan model pembelajaran realistic mathematic education. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran realistic mathematic education dapat iii meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Limbangan 03 tahun pelajaran 2006/2007 dalam pokok bahasan operasi hitung pada bilangan pecahan. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas VI SD Negeri Limbangan 03 tahun pelajaran 2006/2007 beserta guru kelasnya.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam tiga siklus, setiap siklus terdiri atas dua pertemuan. Masing-masing siklus melalui 4 tahapan, yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Pada setiap akhir siklus diadakan tes akhir siklus guna mengetahui adanya peningkatan hasil belajar matematika dalam pembelajaran. Untuk siklus I diperoleh nilai rata-rata 59,6 dengan siswa yang memperoleh nilai ≥ 68 sebanyak 37 % dari 49 siswa yang hadir, kemudian siklus II diperoleh nilai rata-rata 71,1 dengan siswa yang memperoleh nilai ≥ 68 sebanyak 67 % dari 49 siswa, sedangkan siklus III diperoleh nilai rata-rata 69,2 dengan siswa yang memperoleh nilai ≥ 68 sebanyak 63 % dari 49 siswa.

Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan hasil belajar matematika dalam pokok bahasan operasi hitung pada bilangan pecahan dengan menggunakan model pembelajaran realistic mathematic
education. Selain itu juga siswa terbiasa dengan memecahkan masalah realistis, sehingga mereka akan lebih siap menghadapi kehidupan yang penuh dengan berbagai persoalan ini. Penggunaan model pembelajaran realistic mathematic education akan mendorong siswa untuk memanipulasi persoalan-persoalan untuk mendapatkan solusi pemecahannya. Saran yang dapat diberikan adalah gunakan lingkungan iv siswa sebagai salah satu sumber belajar pilihan, agar siswa mengenali lingkungan dan lebih siap membangun lingkungan dan yang utama adalah mereka lebih termotivasi untuk belajar.

Selengkapnya download DISINI

Selasa, 08 November 2016

Keefektifan pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education) dan pembelajaran ekspositori terhadap kemampuan peserta didik di Sekolah Dasar kelas IV dalam menyimpan informasi ke dalam LTM

A.      Latar Belakang
Cukup banyak peserta didik SD tidak suka belajar matematika, yang mengakibatkan nilai matematika peserta didik SD menjadi rendah. Ketidaksukaan peserta didik SD ini semakin diperparah karena sejak awal fondasi pemahaman peserta didik sangat kurang (http://www.geocities.com/bloganak06/anak/MatematikaSebelAh.doc). Hal ini dikarenakan peserta didik bukan dilatih untuk paham dan mengerti tapi hanya mengingat angka-angka. Sehingga mereka kurang mampu menyelesaikan masalah matematika. Ditambahkan lagi bahwa ketidaksukaan peserta didik belajar matematika terbagi menjadi dua. Pertama, matematika tidak menarik. Kedua, peserta didik punya masalah tersendiri dalam memahami konsepkonsep matematika sehingga kurang mampu menggunakannya untuk memecahkan masalah.
Penyebab ketidaksukaan peserta didik dalam belajar matematika dapat diatasi, salah satunya adalah dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk proses belajar. Namun perlu diperhatikan juga bahwa selain dipengaruhi oleh lingkungan, belajar juga dipegaruhi oleh kondisi peserta didik sendiri. Kondisi peserta didik ini berupa kemampuan peserta didik untuk mengolah, menyimpan dan menggunakan kembali pada waktu yang akan datang 2 informasi yang telah diperoleh dari proses belajar yang telah peserta didik alami. LTM (Long Term Memory) merupakan sistem untuk menyimpan, mengatur, dan mendapatkan atau menggunakan kembali informasi yang bersifat permanen. Informasi-informasi yang tersimpan dalam LTM mungkin akan tersedia untuk selamanya.
Hasil belajar yang berupa nilai ujian merupakan gambaran yang paling mudah diamati dalam melihat keberhasilan suatu proses belajar. Meski hal ini tidak dapat dijadikan patokan, namun berdasarkan nilai ujian pulalah seorang peserta didik dapat dinyatakan lulus atau tidak sekarang ini.
Waktu pelaksanaan ujian yang biasanya mempunyai tenggang waktu dari pelaksanaan pembelajaran, menuntut peserta didik mempunyai kemampuan menyimpan informasi ke dalam LTM yang baik. Terlebih lagi pada materi yang dijadikan dasar pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Misalkan materi bilangan bulat pada kelas IV SD, disini terdapat penanaman konsep operasi bilangan bulat yang sering digunakan sebagai pengetahuan dasar untuk mempelajari materi yang lain pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Telah banyak model pembelajaran yang telah dikembangkan sebagai langkah penciptaan lingkungan yang kondusif dalam proses belajar yang diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik. Salah satunya adalah pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education). Sejak tahun 2001 RME mulai merambah Indonesia. RME (Realistic Mathematics 3 Education) adalah sebuah pembelajaran matematika yang menekankan pada penyelesaian masalah secara informal sebelum menggunakan cara formal. Cara informal ini bisa berupa permainan, lagu atau segala sesuatu yang dekat dengan peserta didik. Dekat dengan peserta didik disini berarti berhubungan dengan kehidupan peserta didik, sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik dan terjangkau oleh peserta didik. RME dimulai dari masalah yang kemudian diarahkan menuju pemecahan secara formal.

 Prestasi peserta didik biasanya dilihat melalui nilai ujian, nilai ujian merupakan salah satu perwujudan hasil belajar peserta didik yang sangat dipengaruhi oleh kemampuan peserta didik dalam menyimpan, mengatur, dan mendapatkan atau menggunakan kembali informasi yang ada di dalam memori. Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti mengambil judul “Keefektifan pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education) dan pembelajaran ekspositori terhadap kemampuan peserta didik di Sekolah Dasar kelas IV dalam menyimpan informasi ke dalam LTM”.

Selengkapnya download DISINI

Senin, 07 November 2016

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR ANTARA SISWA YANG MENDAPAT TUGAS SECARA KELOMPOK DENGAN TUGAS SECARA INDIVIDU PADA STANDAR KOMPETENSI MEMAHAMI KONSEP SEGI EMPAT DAN SEGITIGA SERTA MENENTUKAN UKURANNYA DI KELAS VII SMP NEGERI I WLINGI KABUPATEN BLITAR TAHUN PELAJARAN 2007 / 2008

A.        Latar Belakang Masalah
Pembangunan di bidang pendidikan merupakan salah satu sasaran pembangunan yang selalu ditingkatkan terus menerus baik kualitas maupun kuantitasnya. Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan seiring dengan arus globalisasi ini selalu diupayakan adanya pembaharuan dan penyempurnaan di bidang pendidikan. Mutu pendidikan selain tergantung pada kemampuan guru, kurikulum, peralatan, metode pengajaran, penyempurnaan sistem pengajaran pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan, buku-buku penunjang lainnya juga tergantung dari belajar siswa.
Proses belajar Matematika melatih siswa untuk berpikir secara ilmiah dalam memecahkan masalah. Masalah yang diberikan kepada siswa yang biasanya berbentuk tugas, belajar Matematika memerlukan aktifitas mental yang tinggi, oleh karena itu harus kontinyu sebab konsep-konsep dalam Matematika saling berhubungan sehingga untuk mempelajari suatu konsep yang berlanjut harus dimengerti konsep yang mendasari hal tersebut.
Dalam pengajaran Matematika sering timbul suatu masalah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut guru Matematika sangat perlu memberikan tugas-tugas di luar jam efektif pelajaran Matematika. Pemberian tugas kepada siswa melatih siswa untuk meningkatkan aktifitas  belajar melalui pemahaman, penerapan, soal-soal pelatihan. Hal ini mengakibatkan siswa yang mendapatkan tugas memperoleh tambahan pemahaman dan pengertian materi yang lebih tinggi daripada siswa yang tidak mendapatkan tugas.
Pemberian tugas yang rutin menjadikan suatu motivasi bagi siswa untuk mengerjakan sambil memahami konsep Matematika yang diajarkan dan menggunakannya dalam memecahkan masalah Hudoyo (1990:48) menyatakan bahwa apabila seorang guru ingin memberikan tugas, ia harus mempertimbangkan soal-soal yang akan diberikan harus dapat dipahami dapat dikerjakan. Dengan demikian siswa tanggung jawab terhadap penggunaan dan penyerapan dalam menghadapi masalah yang aktual.

Dari uraian di atas dan kenyataan yang ada, dapat disimpulkan bahwa metode pemberian tugas dalam pelajaran Matematika sangat diperlukan dan dapat mempengaruhi prestasi belajar Matematika, sehingga dalam penelitian ini peneliti mengambil judul : “Perbedaan Prestasi Belajar Antara Siswa Yang Mendapat Tugas Secara Kelompok dengan Tugas Secara Individu Pada standar kompetensi Memahami konsep segi empat dan segitiga serta menentukan ukurannya di Kelas VII SMP Negeri I Wlingi Kabupaten Blitar Tahun Pelajaran 2007 / 2008.”
Selengkapnya download DISINI

Minggu, 06 November 2016

PENGARUH PENGGUNAAN METODE BELAJAR AKTIF TIPE QUIZ TEAM TERHADAP MINAT BELAJAR DAN HASIL BELAJAR AKUNTANSI SISWA KELAS X AK SMK NEGERI 3 JEPARA TAHUN 2006/2007

Tujuan pendidikan adalah membentuk sumber daya manusia yang berkualitas tinggi yaitu manusia yang mampu menghadapi perkembangan zaman. Sekolah Menengah Kejuruan sebagai salah satu pendidikan formal berusaha meningkatkan mutu pendidikan dan menyiapkan siswa di dunia kerja. Keberhasilan pendidikan salah satunya ditentukan oleh bagaimana proses belajarnya. Akuntansi merupakan mata pelajaran dasar di SMK. Pembelajaran akuntansi di SMK masih mengalami kesulitan. Hal ini dikarenakan dalam pembelajar akuntansi masih menggunakan metode konvensional. Agar tujuan dapat tercapai diperlukan metode pembelajaran yang tepat, yaitu metode yang dapat membangkitkan minat belajar dan pemahaman siswa pada pelajaran akuntansi. Upaya untuk mambangkitkan minat, pemahaman serta meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan penggunaan metode belajar aktif tipe quiz team.
Dari uraian diatas dapat dirumuskan masalah: adakah perbedaan minat belajar akuntansi siswa antara kelas yang menggunakan metode belajar aktif tipe
quiz team dan kelas yang menggunakan metode konvensional dengan metode ceramah dan latihan soal?, adakah perbedaan minat belajar akuntansi siswa sebelum dan sesudah menggunakan metode belajar aktif tipe quiz team?, adakah perbedaan hasil belajar akuntansi siswa kelas X AK SMK Negeri 3 Jepara antara kelas kontrol dan kelas eksperimen?, adakah pebedaan hasil belajar akuntansi siswa kelompok eksperimen sebelum dan sesudah penggunaan metode belajar aktif tipe quiz team?. Tujuannya yaitu untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan minat antara kelas yang menggunakan metode belajar aktif tipe quiz tam dam kelas yang menggunakan metode konvensional dengan metode caramah dan latihan soal, perbedaan minat belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan metode belajar aktif tipe quiz team, mengetahui perbedaan hasil belajar antara kelas yang menggunakan metode belajar aktif tipe quiz team dengan metode konvensional, mengetahui perbedaan hasil belajar siswa kelompok eksperimen sebelum dan sesudah penerapan metode belajar aktif tipe quiz team. Manfaat penelitian dapat memberikan masukan mengenai teori pembelajaran dan penggunaan variasi dalam pembelajaran akuntansi dengan metode belajar aktif tipe quiz team. Selain itu penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi guru, siswa, dan lembaga yang terkait.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan populasi siswa kelas X AK SMK Negeri 3 Jepara tahun 2006/2007 berjumlah 79 siswa terdiri dari X AK1 dan X AK2.Variabel dalam penelitian ini adalah minat belajar siswa dengan metode konvensional dan metode belajar aktif tipe quiz team. Serta hasil belajar dengan metode konvensional dan metode belajar aktif tipe quiz team. ix ix Penelitian dilakukan dalam tiga tahap yaitu pre tes, proses pembelajaran, dan post tes. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, metode kuesioner dan metode tes. Instrumen yang digunakan adalah soal tes dan angket atau kuesioner. Metode analisi data menggunakan metode Matched Group
Design, analisis deskritif dan menggunakan teknik statistik t test untuk pengujian hipotesis.
Dari hasil analisis data awal kedua kelompok mempunyai kemampuan awal yang relatif sama, tidak ada perbedaan kemampuan awal dari kedua kelompok. Untuk minat belajar kedua kelompok mempunyai varian yang sama. Hasil uji ketuntasan belajar kelompok eksperimen (83.18) hasil belajarnya lebih dari 70 atau telah mencapai ketuntasan belajar. Sedangkan untuk kelompok kontrol hasil belajar (79.60) telah mencapai ketuntasan belajar. Minat belajar siswa setelah pembelajaran antara kelas eksperimen dan kelas kontrol terdapat perbedaan, minat belajar kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol.

Dari hasil penelitian ini peneliti memberikan saran-saran bahwa, penerapan metode belajar aktif tipe quiz team dalam pembelajaran akuntansi perlu dikembangkan sebagai variasi pembelajaran akuntansi yang relevan, guna meningkatkan hasil belajar siswa. Guru hendaknya mampu menciptakan suasana yang tidak membosankan dalam pembelajaran akuntansi, sehingga pelajaran akuntansi menjadi lebih menyenangkan serta mampu meningkatkan minat belajar siswa. Kegiatan penelitian tindakan kelas sangat baik dan perlu dilaksanakan oleh guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas.

Selengkapnya download DISINI

Sabtu, 05 November 2016

Pengaruh Penerapan Model E-Learning Berbasis CD Modul Pembelajaran Matematika Dengan Joomla Terhadap Hasil Belajar Matematika Di SMP Islam Durenan.

Penelitian dalam skripsi ini dilatar belakangi oleh Kurang maksimalnya proses kegiatan belajar mengajar siswa di sekolah membuat tingkat ketuntasan belajar siswa masih rendah. Itu disebabkan, metode pembelajaran dan modul pembelajaran yang digunakan masih bersifat konvensional, sehingga pembelajarannya kurang menarik, akhirnya siswa merasa bosan. Salah satu solusi untuk meningkatkan minat belajar siswa adalah menerapkan model e-learning berbasis CD modul pembelajaran matematika dengan joomla. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII B SMP Islam Durenan, Trenggalek.
Permasalahan (1) Bagaimana penerapan model pembelajaran e-learning berbasis CD modul pembelajaran matematika dengan Joomla terhadap hasil belajar matematika pada siswa kelas VIII ?(2) Adakah pengaruh penerapan model pembelajaran e-learning berbasis CD modul pembelajaran matematika dengan Joomla terhadap peningkatan hasil belajar matematika?
Pola penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment). Sumber data dalam Penelitian eksperimen ini adalah siswa kelas VIII B SMP Islam Durenan. Metode pengumpulan data (1) Tes, (2) Wawancara, (3) Observasi, (4) Dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis statistik atau metode statistik, yaitu Paired Sample t-test (Uji t untuk sampel yang berpasangan) dengn SPSS 16.
Tujuan Penelitian (1) Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran e-learning berbasis CD modul pembelajaran matematika dengan Joomla terhadap hasil belajar matematika pada siswa kelas VIII (2) Untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran e-learning berbasis CD modul pembelajaran matematika dengan Joomla terhadap peningkatan hasil belajar matematika.

Hasil Penelitian Penerapan model e-learning berbasis CD modul pembelajaran matematika dengan Joomla terhadap hasil belajar matematika kelas VIII B di SMP Islam Durenan sangat membantu siswa dalam pembelajaran matematika. Karena dengan adanya penerapan model e-learning ini, siswa dapat lebih mudah memahami konsep yang abstrak dalam pembelajaran matematika. Media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran matematika yaitu media komputer dengan model e-learning berbasis CD modul pembelajaran matematika berupa software halaman web yang berisi materi pelajaran, kumpulan buku, soal-soal latihan matematika, permainan matematika berupa halaman html dengan gambar, grafik, dan warna yang menarik, yang dibuat secara khusus untuk membantu proses pembelajaran matematika, sehingga mampu membuat mata pelajaran matematika yang dianggab sulit dan menakutkan menjadi lebih menarik dan menyenangkan serta mampu dengan mudah diterima siswa. Sehingga Ada pengaruh penerapan model ­e-learning berbasis CD modul pembelajaran matematika dengan Joomla terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VIII B di SMP Islam Durenan, yaitu berdasarkan hasil analisa data terdapat perbedaan nilai rata-rata antara tes awal (sebelum diberikan treatment) dan tes akhir (sesudah diberikan treatment). Nilai rata-rata prestasi belajar metematika sebelum treatment (pretest) siswa sebesar 19,85 dan sesudah treatment (posttest) sebesar 31,51. Disamping itu, sesuai dengan perhitungan program SPSS 16 yang menggunakan analisis Uji t untuk sampel yang berpasangan. Hasil perhitungan data menunjukkan bahwa nilai Sig = 0,000 < 0,025 atau t table = 2,02 < t hitung = 7,060, sedangkan hasil perhitungan dengan rumus atau secara manual menunjukkan bahwa tt (5% = 2,02) < te (5,015) dan tt (1% = 2,70) < te (5,015). Ini berarti nilai t empirik/t hitung lebih besar dari nilai t teorik/t table baik pada taraf 5% maupun 1%. Maka hipotesis nihil (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima.

Selengkapnya download DISINI

Jumat, 04 November 2016

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK BERBASIS MEDIA DAN BERKONTEKS LOKAL SEBAGAI UPAYA MENGOPTIMALKAN KEAKTIFAN SISWA

A.     Latar Belakang

Pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya
dengan anak – anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohani ke
arah kedewasaan ( Ngalim Purwanto, 2004 : 10 ). Menurut PP no 19 tahun
2005 dan dipertegas dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2
tahun 1989, pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa
dan mengembangkan manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan ketrampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang
mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Salah satu perwujudannya melalui pendidikan bermutu pada setiap satuan
pendidikan di Indonesia. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran
yang memberikan kontribusi positif dalam tercapainya masyarakat yang
cerdas dan bermartabat melalui sikap kritis dan berpikir logis.
Menurut Mulyono Abdurrahman ( 2003 : 252 ), Matematika adalah
bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan –
hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk
memudahkan berpikir. Alasan tentang pentingnya matematika diajarkan
kepada siswa adalah selalu digunakan dalam segala segi kehidupan, semua
bidang studi memerlukan ketrampilan matematika yang sesuai, merupakan
sarana komunikasi yang kuat, singkat dan jelas, dapat digunakan untuk
menyajikan informasi dalam berbagai cara, meningkatkan kemampuan
berpikir logis, ketelitian dan kesadaran keruangan, memberikan kepuasan
terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang.
Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai obyek yang
bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami
kesulitan dalam matematika. Prestasi matematika siswa baik secara nasional
maupun internasional belum menggembirakan.
Third International
Mathematics and Science Study
(TIMSS) melaporkan bahwa rata-rata skor
matematika siswa tingkat 8 (tingkat II SLTP) Indonesia jauh di bawah ratarata skor matematika siswa internasional dan berada pada ranking 34 dari 38
negara (TIMSS,1999). Rendahnya prestasi matematika siswa disebabkan oleh
faktor siswa yaitu mengalami masalah secara komprehensif atau secara parsial
dalam matematika. (
http://zainurie.wordpress.com/2007/04/13/pembelajaranmatematika-realistik-rme/ )
Pada umumnya siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan
matematika ke dalam situasi kehidupan real. Hal lain yang menyebabkan
sulitnya matematika bagi siswa karena pembelajaran matematika kurang
bermakna. Guru di dalam kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah
dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan
kembali dan mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika. Mengaitkan
pengalaman kehidupan nyata anak dengan ide-ide matematika dalam
pembelajaran di kelas penting dilakukan agar pembelajaran bermakna.
Pada pembelajaran matematika juga ditemukan keragaman masalah
sebagai berikut: 1) keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran masih
belum nampak, 2) para siswa jarang mengajukan pertanyaan, walaupun guru
sering meminta agar siswa bertanya jika ada hal-hal yang belum atau kurang
paham, 3) keaktifan siswa mengerjakan soal-soal latihan pada proses
pembelajaran juga masih kurang, 4) kurangnya keberanian siswa untuk
mengerjakan soal di depan kelas.
Dalam pengajaran matematika diharapkan siswa benar-benar aktif,
sehingga akan berdampak pada ingatan siswa tentang apa yang dipelajari akan
lebih lama bertahan. Suatu konsep akan mudah dipahami dan diingat oleh
siswa bila konsep tersebut disajikan melalui prosedur dan langkah-langkah
yang tepat, jelas dan menarik keaktifan siswa sehingga mempengaruhi
keberhasilan dalam belajar.
Dari hasil pengamatan penulis menunjukkan bahwa prestasi belajar
siswa terhadap pelajaran matematika masih rendah. Hal ini disebabkan adanya
anggapan bahwa matematika sulit dan membosankan, serta kurang
dilibatkannya siswa dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, penulis
akan mengujicobakan model pembelajaran yang menarik dan dapat memicu
siswa untuk ikut serta secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar yaitu
Model Pembelajaran Matematika Realistik. Model pembelajaran ini lebih
ditekankan pada pembelajaran matematika dengan menempatkan realitas dan
pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. Dengan model
pembelajaran ini setiap siswa diberikan kesempatan untuk menemukan dan
menerapkan konsep – konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari–
hari atau masalah dalam bidang lain.
Untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika
melalui model
Pembelajaran Matematika Realistik dapat menggunakan kerja
sama antara guru matematika dan peneliti yaitu melalui Penelitian Tindakan
Kelas. Proses penelitian Tindakan Kelas ini memberikan kesempatan kepada
peneliti dan guru matematika untuk mengidentifikasi masalah-masalah
pembelajaran di sekolah sehingga dapat dikaji dan dituntaskan. Dengan
demikian proses pembelajaran matematika yang menerapkan model
Pembelajaran Matematika Realistik dapat meningkatkan keaktifan siswa.
Bertolak dari uraian-uraian di atas maka penulis melakukan penelitian tentang
” Penerapan Model Pembelajaran Matematika Realistik Berbasis Media Dan
Berkonteks Lokal Sebagai Upaya Peningkatan Keaktifan Siswa Kelas VI SD
Muhammadiyah 16 Surakarta”.

Selengkapnya download DISINI