Pages

Subscribe:

Senin, 07 November 2016

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR ANTARA SISWA YANG MENDAPAT TUGAS SECARA KELOMPOK DENGAN TUGAS SECARA INDIVIDU PADA STANDAR KOMPETENSI MEMAHAMI KONSEP SEGI EMPAT DAN SEGITIGA SERTA MENENTUKAN UKURANNYA DI KELAS VII SMP NEGERI I WLINGI KABUPATEN BLITAR TAHUN PELAJARAN 2007 / 2008

A.        Latar Belakang Masalah
Pembangunan di bidang pendidikan merupakan salah satu sasaran pembangunan yang selalu ditingkatkan terus menerus baik kualitas maupun kuantitasnya. Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan seiring dengan arus globalisasi ini selalu diupayakan adanya pembaharuan dan penyempurnaan di bidang pendidikan. Mutu pendidikan selain tergantung pada kemampuan guru, kurikulum, peralatan, metode pengajaran, penyempurnaan sistem pengajaran pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan, buku-buku penunjang lainnya juga tergantung dari belajar siswa.
Proses belajar Matematika melatih siswa untuk berpikir secara ilmiah dalam memecahkan masalah. Masalah yang diberikan kepada siswa yang biasanya berbentuk tugas, belajar Matematika memerlukan aktifitas mental yang tinggi, oleh karena itu harus kontinyu sebab konsep-konsep dalam Matematika saling berhubungan sehingga untuk mempelajari suatu konsep yang berlanjut harus dimengerti konsep yang mendasari hal tersebut.
Dalam pengajaran Matematika sering timbul suatu masalah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut guru Matematika sangat perlu memberikan tugas-tugas di luar jam efektif pelajaran Matematika. Pemberian tugas kepada siswa melatih siswa untuk meningkatkan aktifitas  belajar melalui pemahaman, penerapan, soal-soal pelatihan. Hal ini mengakibatkan siswa yang mendapatkan tugas memperoleh tambahan pemahaman dan pengertian materi yang lebih tinggi daripada siswa yang tidak mendapatkan tugas.
Pemberian tugas yang rutin menjadikan suatu motivasi bagi siswa untuk mengerjakan sambil memahami konsep Matematika yang diajarkan dan menggunakannya dalam memecahkan masalah Hudoyo (1990:48) menyatakan bahwa apabila seorang guru ingin memberikan tugas, ia harus mempertimbangkan soal-soal yang akan diberikan harus dapat dipahami dapat dikerjakan. Dengan demikian siswa tanggung jawab terhadap penggunaan dan penyerapan dalam menghadapi masalah yang aktual.

Dari uraian di atas dan kenyataan yang ada, dapat disimpulkan bahwa metode pemberian tugas dalam pelajaran Matematika sangat diperlukan dan dapat mempengaruhi prestasi belajar Matematika, sehingga dalam penelitian ini peneliti mengambil judul : “Perbedaan Prestasi Belajar Antara Siswa Yang Mendapat Tugas Secara Kelompok dengan Tugas Secara Individu Pada standar kompetensi Memahami konsep segi empat dan segitiga serta menentukan ukurannya di Kelas VII SMP Negeri I Wlingi Kabupaten Blitar Tahun Pelajaran 2007 / 2008.”
Selengkapnya download DISINI

Minggu, 06 November 2016

PENGARUH PENGGUNAAN METODE BELAJAR AKTIF TIPE QUIZ TEAM TERHADAP MINAT BELAJAR DAN HASIL BELAJAR AKUNTANSI SISWA KELAS X AK SMK NEGERI 3 JEPARA TAHUN 2006/2007

Tujuan pendidikan adalah membentuk sumber daya manusia yang berkualitas tinggi yaitu manusia yang mampu menghadapi perkembangan zaman. Sekolah Menengah Kejuruan sebagai salah satu pendidikan formal berusaha meningkatkan mutu pendidikan dan menyiapkan siswa di dunia kerja. Keberhasilan pendidikan salah satunya ditentukan oleh bagaimana proses belajarnya. Akuntansi merupakan mata pelajaran dasar di SMK. Pembelajaran akuntansi di SMK masih mengalami kesulitan. Hal ini dikarenakan dalam pembelajar akuntansi masih menggunakan metode konvensional. Agar tujuan dapat tercapai diperlukan metode pembelajaran yang tepat, yaitu metode yang dapat membangkitkan minat belajar dan pemahaman siswa pada pelajaran akuntansi. Upaya untuk mambangkitkan minat, pemahaman serta meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan penggunaan metode belajar aktif tipe quiz team.
Dari uraian diatas dapat dirumuskan masalah: adakah perbedaan minat belajar akuntansi siswa antara kelas yang menggunakan metode belajar aktif tipe
quiz team dan kelas yang menggunakan metode konvensional dengan metode ceramah dan latihan soal?, adakah perbedaan minat belajar akuntansi siswa sebelum dan sesudah menggunakan metode belajar aktif tipe quiz team?, adakah perbedaan hasil belajar akuntansi siswa kelas X AK SMK Negeri 3 Jepara antara kelas kontrol dan kelas eksperimen?, adakah pebedaan hasil belajar akuntansi siswa kelompok eksperimen sebelum dan sesudah penggunaan metode belajar aktif tipe quiz team?. Tujuannya yaitu untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan minat antara kelas yang menggunakan metode belajar aktif tipe quiz tam dam kelas yang menggunakan metode konvensional dengan metode caramah dan latihan soal, perbedaan minat belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan metode belajar aktif tipe quiz team, mengetahui perbedaan hasil belajar antara kelas yang menggunakan metode belajar aktif tipe quiz team dengan metode konvensional, mengetahui perbedaan hasil belajar siswa kelompok eksperimen sebelum dan sesudah penerapan metode belajar aktif tipe quiz team. Manfaat penelitian dapat memberikan masukan mengenai teori pembelajaran dan penggunaan variasi dalam pembelajaran akuntansi dengan metode belajar aktif tipe quiz team. Selain itu penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi guru, siswa, dan lembaga yang terkait.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan populasi siswa kelas X AK SMK Negeri 3 Jepara tahun 2006/2007 berjumlah 79 siswa terdiri dari X AK1 dan X AK2.Variabel dalam penelitian ini adalah minat belajar siswa dengan metode konvensional dan metode belajar aktif tipe quiz team. Serta hasil belajar dengan metode konvensional dan metode belajar aktif tipe quiz team. ix ix Penelitian dilakukan dalam tiga tahap yaitu pre tes, proses pembelajaran, dan post tes. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, metode kuesioner dan metode tes. Instrumen yang digunakan adalah soal tes dan angket atau kuesioner. Metode analisi data menggunakan metode Matched Group
Design, analisis deskritif dan menggunakan teknik statistik t test untuk pengujian hipotesis.
Dari hasil analisis data awal kedua kelompok mempunyai kemampuan awal yang relatif sama, tidak ada perbedaan kemampuan awal dari kedua kelompok. Untuk minat belajar kedua kelompok mempunyai varian yang sama. Hasil uji ketuntasan belajar kelompok eksperimen (83.18) hasil belajarnya lebih dari 70 atau telah mencapai ketuntasan belajar. Sedangkan untuk kelompok kontrol hasil belajar (79.60) telah mencapai ketuntasan belajar. Minat belajar siswa setelah pembelajaran antara kelas eksperimen dan kelas kontrol terdapat perbedaan, minat belajar kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol.

Dari hasil penelitian ini peneliti memberikan saran-saran bahwa, penerapan metode belajar aktif tipe quiz team dalam pembelajaran akuntansi perlu dikembangkan sebagai variasi pembelajaran akuntansi yang relevan, guna meningkatkan hasil belajar siswa. Guru hendaknya mampu menciptakan suasana yang tidak membosankan dalam pembelajaran akuntansi, sehingga pelajaran akuntansi menjadi lebih menyenangkan serta mampu meningkatkan minat belajar siswa. Kegiatan penelitian tindakan kelas sangat baik dan perlu dilaksanakan oleh guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas.

Selengkapnya download DISINI

Sabtu, 05 November 2016

Pengaruh Penerapan Model E-Learning Berbasis CD Modul Pembelajaran Matematika Dengan Joomla Terhadap Hasil Belajar Matematika Di SMP Islam Durenan.

Penelitian dalam skripsi ini dilatar belakangi oleh Kurang maksimalnya proses kegiatan belajar mengajar siswa di sekolah membuat tingkat ketuntasan belajar siswa masih rendah. Itu disebabkan, metode pembelajaran dan modul pembelajaran yang digunakan masih bersifat konvensional, sehingga pembelajarannya kurang menarik, akhirnya siswa merasa bosan. Salah satu solusi untuk meningkatkan minat belajar siswa adalah menerapkan model e-learning berbasis CD modul pembelajaran matematika dengan joomla. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII B SMP Islam Durenan, Trenggalek.
Permasalahan (1) Bagaimana penerapan model pembelajaran e-learning berbasis CD modul pembelajaran matematika dengan Joomla terhadap hasil belajar matematika pada siswa kelas VIII ?(2) Adakah pengaruh penerapan model pembelajaran e-learning berbasis CD modul pembelajaran matematika dengan Joomla terhadap peningkatan hasil belajar matematika?
Pola penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment). Sumber data dalam Penelitian eksperimen ini adalah siswa kelas VIII B SMP Islam Durenan. Metode pengumpulan data (1) Tes, (2) Wawancara, (3) Observasi, (4) Dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis statistik atau metode statistik, yaitu Paired Sample t-test (Uji t untuk sampel yang berpasangan) dengn SPSS 16.
Tujuan Penelitian (1) Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran e-learning berbasis CD modul pembelajaran matematika dengan Joomla terhadap hasil belajar matematika pada siswa kelas VIII (2) Untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran e-learning berbasis CD modul pembelajaran matematika dengan Joomla terhadap peningkatan hasil belajar matematika.

Hasil Penelitian Penerapan model e-learning berbasis CD modul pembelajaran matematika dengan Joomla terhadap hasil belajar matematika kelas VIII B di SMP Islam Durenan sangat membantu siswa dalam pembelajaran matematika. Karena dengan adanya penerapan model e-learning ini, siswa dapat lebih mudah memahami konsep yang abstrak dalam pembelajaran matematika. Media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran matematika yaitu media komputer dengan model e-learning berbasis CD modul pembelajaran matematika berupa software halaman web yang berisi materi pelajaran, kumpulan buku, soal-soal latihan matematika, permainan matematika berupa halaman html dengan gambar, grafik, dan warna yang menarik, yang dibuat secara khusus untuk membantu proses pembelajaran matematika, sehingga mampu membuat mata pelajaran matematika yang dianggab sulit dan menakutkan menjadi lebih menarik dan menyenangkan serta mampu dengan mudah diterima siswa. Sehingga Ada pengaruh penerapan model ­e-learning berbasis CD modul pembelajaran matematika dengan Joomla terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VIII B di SMP Islam Durenan, yaitu berdasarkan hasil analisa data terdapat perbedaan nilai rata-rata antara tes awal (sebelum diberikan treatment) dan tes akhir (sesudah diberikan treatment). Nilai rata-rata prestasi belajar metematika sebelum treatment (pretest) siswa sebesar 19,85 dan sesudah treatment (posttest) sebesar 31,51. Disamping itu, sesuai dengan perhitungan program SPSS 16 yang menggunakan analisis Uji t untuk sampel yang berpasangan. Hasil perhitungan data menunjukkan bahwa nilai Sig = 0,000 < 0,025 atau t table = 2,02 < t hitung = 7,060, sedangkan hasil perhitungan dengan rumus atau secara manual menunjukkan bahwa tt (5% = 2,02) < te (5,015) dan tt (1% = 2,70) < te (5,015). Ini berarti nilai t empirik/t hitung lebih besar dari nilai t teorik/t table baik pada taraf 5% maupun 1%. Maka hipotesis nihil (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima.

Selengkapnya download DISINI

Jumat, 04 November 2016

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK BERBASIS MEDIA DAN BERKONTEKS LOKAL SEBAGAI UPAYA MENGOPTIMALKAN KEAKTIFAN SISWA

A.     Latar Belakang

Pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya
dengan anak – anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohani ke
arah kedewasaan ( Ngalim Purwanto, 2004 : 10 ). Menurut PP no 19 tahun
2005 dan dipertegas dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2
tahun 1989, pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa
dan mengembangkan manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan ketrampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang
mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Salah satu perwujudannya melalui pendidikan bermutu pada setiap satuan
pendidikan di Indonesia. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran
yang memberikan kontribusi positif dalam tercapainya masyarakat yang
cerdas dan bermartabat melalui sikap kritis dan berpikir logis.
Menurut Mulyono Abdurrahman ( 2003 : 252 ), Matematika adalah
bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan –
hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk
memudahkan berpikir. Alasan tentang pentingnya matematika diajarkan
kepada siswa adalah selalu digunakan dalam segala segi kehidupan, semua
bidang studi memerlukan ketrampilan matematika yang sesuai, merupakan
sarana komunikasi yang kuat, singkat dan jelas, dapat digunakan untuk
menyajikan informasi dalam berbagai cara, meningkatkan kemampuan
berpikir logis, ketelitian dan kesadaran keruangan, memberikan kepuasan
terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang.
Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai obyek yang
bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami
kesulitan dalam matematika. Prestasi matematika siswa baik secara nasional
maupun internasional belum menggembirakan.
Third International
Mathematics and Science Study
(TIMSS) melaporkan bahwa rata-rata skor
matematika siswa tingkat 8 (tingkat II SLTP) Indonesia jauh di bawah ratarata skor matematika siswa internasional dan berada pada ranking 34 dari 38
negara (TIMSS,1999). Rendahnya prestasi matematika siswa disebabkan oleh
faktor siswa yaitu mengalami masalah secara komprehensif atau secara parsial
dalam matematika. (
http://zainurie.wordpress.com/2007/04/13/pembelajaranmatematika-realistik-rme/ )
Pada umumnya siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan
matematika ke dalam situasi kehidupan real. Hal lain yang menyebabkan
sulitnya matematika bagi siswa karena pembelajaran matematika kurang
bermakna. Guru di dalam kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah
dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan
kembali dan mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika. Mengaitkan
pengalaman kehidupan nyata anak dengan ide-ide matematika dalam
pembelajaran di kelas penting dilakukan agar pembelajaran bermakna.
Pada pembelajaran matematika juga ditemukan keragaman masalah
sebagai berikut: 1) keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran masih
belum nampak, 2) para siswa jarang mengajukan pertanyaan, walaupun guru
sering meminta agar siswa bertanya jika ada hal-hal yang belum atau kurang
paham, 3) keaktifan siswa mengerjakan soal-soal latihan pada proses
pembelajaran juga masih kurang, 4) kurangnya keberanian siswa untuk
mengerjakan soal di depan kelas.
Dalam pengajaran matematika diharapkan siswa benar-benar aktif,
sehingga akan berdampak pada ingatan siswa tentang apa yang dipelajari akan
lebih lama bertahan. Suatu konsep akan mudah dipahami dan diingat oleh
siswa bila konsep tersebut disajikan melalui prosedur dan langkah-langkah
yang tepat, jelas dan menarik keaktifan siswa sehingga mempengaruhi
keberhasilan dalam belajar.
Dari hasil pengamatan penulis menunjukkan bahwa prestasi belajar
siswa terhadap pelajaran matematika masih rendah. Hal ini disebabkan adanya
anggapan bahwa matematika sulit dan membosankan, serta kurang
dilibatkannya siswa dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, penulis
akan mengujicobakan model pembelajaran yang menarik dan dapat memicu
siswa untuk ikut serta secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar yaitu
Model Pembelajaran Matematika Realistik. Model pembelajaran ini lebih
ditekankan pada pembelajaran matematika dengan menempatkan realitas dan
pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. Dengan model
pembelajaran ini setiap siswa diberikan kesempatan untuk menemukan dan
menerapkan konsep – konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari–
hari atau masalah dalam bidang lain.
Untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika
melalui model
Pembelajaran Matematika Realistik dapat menggunakan kerja
sama antara guru matematika dan peneliti yaitu melalui Penelitian Tindakan
Kelas. Proses penelitian Tindakan Kelas ini memberikan kesempatan kepada
peneliti dan guru matematika untuk mengidentifikasi masalah-masalah
pembelajaran di sekolah sehingga dapat dikaji dan dituntaskan. Dengan
demikian proses pembelajaran matematika yang menerapkan model
Pembelajaran Matematika Realistik dapat meningkatkan keaktifan siswa.
Bertolak dari uraian-uraian di atas maka penulis melakukan penelitian tentang
” Penerapan Model Pembelajaran Matematika Realistik Berbasis Media Dan
Berkonteks Lokal Sebagai Upaya Peningkatan Keaktifan Siswa Kelas VI SD
Muhammadiyah 16 Surakarta”.

Selengkapnya download DISINI

Kamis, 03 November 2016

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Prestasi Belajar pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung Siswa Kelas VIII A SMP Islam Durenan Trenggalek Tahun Pelajaran 2007/2008. Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP PGRI Tulungagung

Materi bangun ruang sisi lengkung merupakan materi yang tergolong sulit. Untuk memahaminya perlu menggunakan model pembelajaran yang sesuai, yang dapat memacu aktivitas belajar siswa sehingga nantinya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, misalnya dengan pembelajaran koperatif. Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe, salah satunya adalah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Melalui pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, siswa dilatih untuk bekerjasama, mampu berinteraksi, serta memiliki tanggungjawab tidak hanya terhadap dirinya sendiri, melainkan juga tanggung jawab terhadap kelompok.
            Rumusan masalah dari penelitian ini adalah “Bagaimanakah penerapan model  pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dapat meningkatkan prestasi belajar pada pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung siswa kelas VIII A SMP Islam Durenan Trenggalek Tahun Pelajaran 2007/2008?”. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dapat meningkatkan prestasi belajar pada pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung siswa kelas VIII A SMP Islam Durenan Trenggalek Tahun Pelajaran 2007/2008.
            Penelitian ini dilaksanakan di SMP Islam Durenan Trenggalek pada bulan April-Mei 2008. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas  dengan menggunakan tiga siklus tindakan. Setiap siklus meliputi rencana tindakan, tindakan, observasi, dan refleksi.  Subyek dari penelitian ini adalah siswa kelas VIII A dengan jumlah 40 siswa terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 24 siswa perempuan. Proses pembelajaran berlangsung dengan mengikuti langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Metode pengumpulan data menggunakan tes, observasi, wawancara, dan angket. Ketuntasan belajar siswa dicapai bila siswa memperoleh nilai 65 atau lebih.
            Hasil penelitian yaitu: 1) pada siklus I ketuntasan belajar klasikal sebesar 67,5%, kemudian mengalami peningkatan pada siklus II yaitu sebesar 72,5 %, dan meningkat lagi pada siklus III sebesar 82,5 %. Dari hasil peningkatan ketuntasan belajar siswa tersebut menunjukkan adanya peningkatan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung, 2) aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan dalam setiap siklusnya yaitu siklus I terhitung persentase sebesar 66,7 %, siklus II menjadi 73,6 %, dan siklus III meningkat menjadi 80,6 %.
            Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan prestasi belajar pada pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung siswa kelas VIII A SMP Islam Durenan Trenggalek Tahun Pelajaran 2007/2008.
Saran-saran yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah: 1) hendaknya selalu memberi strategi baru dalam pembelajaran untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa sehingga prestasi belajar siswa dapat meningkat, 2) guru disarankan agar melaksanakan penelitian tindakan kelas untuk lebh mengenal secara mendalam permasalahan dalam proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

Selengkapnya download di SINI

Rabu, 02 November 2016

Penerapan Metode Pembelajaran Montessorri Yang Dapat Meningkatkan Pemahaman Siswa Tentang Materi Pecahan Pada Siswa Kelas V SDN Bago 5 Tahun 2008/2009

Matematika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang memberikan penilaian penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun pada kenyataanya matematika justru dianggap sebagai momok yang sangat menakutkan bagi siswa. Berawal dari permasalahan itu maka perlu adanya perubahan dalam pembelajaran sehingga asumsi buruk tentang matematika sedikit demi sedikit akan hilang. Salah satunya yaitu dengan menerapkan metode montessori.
Salah satu metode pembelajaran yang dianggap bisa meningkatkan pemahaman siswa adalah pembelajaran metode montessori. Pembelajaran ini diyakini sesuai dengan karakter siswa kelas V SDN Bago 5 karena dalam pembelajaran ini menggunakan alat bantu peraga matematika.
Rumusan masalah dalam penelitian metode montessori ini adalah.
1.Bagaimana penerapan metode pembelajaran Montesorri yang dapat meningkatkan pemahaman prestasi belajar siswa tentang materi pecahan pada siswa kelas V SDN Bago 5 tahun 2008/2009 ? 2.Bagaimana respon siswa terhadap penerapan metode pembelajaran Montesorri tentang materi pecahan pada siswa kelas V SDN Bago 5 tahun 2008/2009 ?
3. Apakah  penerapan metode pembelajaran Montesorri tentang materi pecahan pada siswa kelas V SDN Bago 5 tahun 2008/2009 efektif digunakan?
Penerapan model pembelajaran ini dilaksanakan dengan tujuan: (1) Untuk mengembangkan penguasaan ketrampilan siswa yang sederhana dan kompleks, (2) Supaya siswa bisa memahami materi-materi yang diajarkan oleh gurunya dengan jelas, (3) Mengetahui peningkatan pemahaman siswa terhadap materi pecahan. Setelah di terapkannya metode Montessori.
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah jika penerapan metode pembelajaran montessori yang dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang materi pecahan diterapkan dengan baik, maka dapat meningkatkan pemahaman matematika materi pecahan pada siswa kelas V SDN Bago 5 Tahun 2008/2009.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilak sanakan dengan empat pertemuan. Prosedur pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, angket dan test. Metode observasi diperoleh data untuk mengamati sejauh mana model pembelajaran montessori
diterapkan selama penelitian. Dari metode test dapat diperoleh data yang berupa nilai belajar siswa dan untuk selanjutnya digunakan untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa dalam materi pecahan, sehingga dari nilai tersebut dapat dilihat hasil pemahaman siswa.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif yang bersikap deskriptif. Adapun langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah : (1) Persiapan penelitian, (2) Membuat perencanaan penelitian, (3) Instrumen penelitian.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode montessori dapat meningkatkan pemahaman siswa dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut: (1) Tahap awal, Pengenalan identias (2) Tahap inti, guru melakukan pembelajaran dengan benar, menyajikannya setahap demi setahap, (3) Tahap akhir, observasi, angket dan tes hasil belajar. Peningkatan pemahaman prestasi belajar ini juga dapat dilihat dari meningkatnya nilai siswa mulai dari test awal dengan skor nilai rata-rata siswa 40,5 % dan setelah adanya model penerapan metode Montessori  rata-rata siswa mencapai 81 %.  Sehingga sesuai dengan pembahasan analisis data yang diperoleh dapat diambil simpulan bahwa pemahaman siswa pada materi pecahan akan bisa meningkat  bila diterapkan metode Montessori pada siswa kelas V SDN Bago 5 Tulungagung.
Selengkapnya download di SINI

Selasa, 01 November 2016

PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATERI PECAHAN PADA SISWA KELAS III SD NEGERI SURUHANKIDUL II KECAMATAN BANDUNG KABUPATEN TULUNGAGUNG TAHUN PELAJARAN 2007/2008

A.  Latar Belakang Masalah

            Dalam pasal 1 ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa “Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik segera aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak ilmu, serta keterampilan yang diperlukan dirinya di dalam masyarakat, bangsa, dan negara”.
            Dari uraian di atas dapat disimpukan bahwa pendidikan akan berjalan dengan baik apabila strategi pembelajaran yang digunakan efektif dan peserta didik aktif. Strategi pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang mendekatkan siswa dengan kehidupan sehari-hari, sehingga apa yang dipelajari siswa akan lebih bermakna. Untuk itulah maka pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) menjadi pilihan yang paling tepat.
            Dalam bidang studi Matematika antara satu dengan yang lainnya saling terkait, di samping itu dalam penguasaan pokok bahasan diperlukan dasar yang kuat untuk menyesuaikan sehingga tujuan pembelajaran tersebut tercapai. Dari hasil observasi, di Sekolah Dasar Negeri Suruhankidul II Kecamatan Bandung Kabupaten Tulungagung tepatnya di kelas III, didapati siswa yang ramai dan bermain dengan teman sebangkunya ketika guru menyampaikan materi pecahan. Apabila siswa tidak antusias dalam menerima materi, maka upaya peningkatan prestasi belajar Matematika sulit untuk diwujudkan. Materi tidak dapat disampaikan sesuai harapan. Hal ini disebabkan karena siswa tidak menyukai mata pelajaran tersebut, siswa tidak memahami apa yang dijelaskan oleh guru, dan metode penyampaian materi yang kurang tepat. Dari permasalahan di atas guru berusaha memperbaiki metode penyampaian yang kurang tepat dengan teknik pendekatan Contextual Teaching and Learning  (CTL).

            Bertitik tolak dari alasan yang telah diuraikan di atas, maka peneliti merasa tertarik untuk meneliti kebenarannya dengan mengadakan penelitian ilmiah dengan judul “Pembelajaran Dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)  untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Materi Pecahan Pada Siswa Kelas III SD Negeri Suruhankidul II Kecamatan Bandung Kabupaten Tulungagung Tahun Pelajaran 2007/2008.

Selengkapnya diownload di SINI